MENGAIS REJEKI DI TUMPUKAN SAMPAH

. . Tidak ada komentar:


          Basuki Riyadi (38) tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang pemulung. Latar belakang keluarganya tergolong “berkecukupan” untuk ukuran masyarakat desa. Ayahnya adalah seorang tukang pembuat mebel yang cukup sukses di Desa Semboro, Kabupaten Jember. Pada masa kecil, Riyadi tidak mengalami kekurangan dan dididik dengan penuh kasih sayang. Pada usia tujuh tahun, ia disekolahkan di salah satu SD Negeri di Kecamatan Tanggul. Bayang-bayang masa depan yang cukup cerah selalu bergayut dalam pikirannya, apalagi ia termasuk salah seorang siswa yang cukup cerdas di sekolahnya. Cita-citanya pun melambung tinggi, yaitu ingin menjadi dosen. Sebuah cita-cita yang sangat wajar bagi setiap anak dari keluarga yang berkecukupan.
            Cita-cita itu pula yang mendorongnya memilih salah satu SMP Negeri di Kecamatan Tanggul. Tanpa banyak kesulitan, ia menjadi salah seorang siswa terbaik di sekolahnya, yaitu ketika ia duduk di bangku Kelas I SMP Negeri tersebut. Ia selalu mendapat pujian dari para guru dan teman-teman sekolahnya. Bahkan beberapa kali ia mengikuti lomba tingkat kecamatan, mewakili sekolahnya. Bayangan masa depan pun tampak cerah!
Namun, suratan takdir tak dapat ditolak. Ketika Riyadi naik Kelas II SMP, kedua orangtuanya bercerai. Ayahnya menikah lagi, demikian juga ibunya. Ia sempat mengikuti ibunya bersama ayah tirinya. Namun setahun kemudian, ia disuruh “pergi” oleh ayah tirinya. Sejak saat itulah, ia hidup sebatangkara dan tinggal bersama neneknya di Desa Kebonsari, Jember. Ia terpaksa meninggalkan bangku sekolah dengan perasaan getir, duka-derita dan air mata. Alhasilnya, cita-cita menjadi dosen hanya sebatas impian indah yang dibalut kekecewaan. Hari-hari yang dilaluinya penuh duka dan air mata. Berkali-kali ia mencari pekerjaan, tetapi selalu saja ditolak.
            Akhirnya, Riyadi terpaksa menjalani sebuah profesi yang tidak pernah terbayangkan pada masa kecilnya, yaitu menjadi pemulung. Sebuah profesi yang bergulat dengan tumpukan sampah: kotor, menjijikkan, dan bau busuk. Di tumpukan sampah inilah Riyadi mengais rejeki untuk menghidupi dirinya, istri dan kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD. Saban hari ia mencari benda-benda berharga dalam tumpukan sampah. Bagi Riyadi, sampah adalah sebuah berkat yang membuat keluarganya masih bisa bertahan hidup.
Riyadi tidak seorang diri! Ada banyak masyarakat Jember mengalami nasib serupa seperti dirinya. Paling tidak, ada lima orang teman seprofesi Riyadi yang menjadi korban perceraian orangtuanya. Mereka terpaksa menjadi pemulung setelah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Hari-hari yang mereka lalui diwarnai kesedihan, kepedihan, kesusahan, penderitaan dan air mata. Terkadang mereka merasa ditolak oleh lingkungan sosial ketika membaca tulisan yang terpampang di pintu gerbang perumahan atau gang, seperti tulisan “Pemulung Dilarang Masuk”, “Daerah Ini Bukan Untuk Pemulung”, dan tulisan sejenis lainnya. Mereka merasa lebih “hina” daripada binatang!
            Namun demikian, mereka tetap mensyukuri rahmat kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. “Hidup kami memang serba susah. Namun kami bersyukur karena Tuhan selalu membantu kesulitan kami,” kata Riyadi yang “diamini” teman-temannya. Ya, di mata manusia, para pemulung mungkin dipandang sebagai manusia hina. Tapi, di mata Tuhan, mereka tetap menjadi gambaran kemuliaan-Nya.  ***
                                                                  
                    Oleh : Rina HS


            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar